.quickedit { display:none; }

Resensi Buku: Jatuh Cinta Diam-Diam

Judul: Jatuh Cinta Diam-Diam
Penulis: Dwitasari
Penerbit: Plotpoint
Tebal: 217 halaman
Tahun Terbit: 2014

Sinopsis :
Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai; memilih untuk diam, memerhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.

Setelah sukses dengan Raksasa Dari Jogja, Dwitasari kini mengumpulkan 14 kisah ini. Kisah tentang kebahagiaan mencintai dan kepedihan memendam cinta. Kisah tentang orang-orang yang menyimpan sebuah nama di hati mereka. Kisah yang akan membuat kita bertanya: apa halangan untuk nyatakan cinta?


Review:
Jatuh cinta diam-diam adalah sebuah buku kumpulan 14 cerpen yang bertema sesuai judul buku ini. Saya memilih buku ini secara random dan dengan pertimbangan setelah melihat review dari goodreads.com. Buku ini mengingatkan saya pada buku berjuta rasanya, yang juga berisi kumpulan cerpen tentang cinta. Saya pun berharap buku ini semenarik buku karangan Tere Liye tersebut dan mampu menyentuh emosi hingga pembaca bisa larut pada setiap cerpennya.

Sebelumnya saya belum tahu buku ini, tapi ketika melihatnya di gramedia saya tertarik dengan judulnya. Saya mengira buku dengan tema jatuh cinta diam-diam akan menghadirkan cerita-cerita yang menarik untuk dibaca. Ditambah lagi, tema tersebut juga merupakan tema sebagian besar pengalaman asmara saya hehehe :p.

Namun, diluar dugaan. Tiga cerpen awal di buku ini terlalu mainstream menurut saya. Alur ceritanya mudah ditebak dan datar. Tiga cerpen itu membuat saya berkomentar "Udah ? Gitu aja ?". Maka, saya sempat malas melanjutkan membaca karena takutnya semua cerpen dibuku ini sama datarnya dengan cerpen diawal tersebut. Namun saya ternyata menjudge terlalu dini. Setelah saya paksakan membaca lagi, cerpen-cerpen selanjutnya lumayan dan semakin lama makin lebih "berisi". Mulai terdapat situasi yang lebih rumit sehingga rasa bosan membaca mulai hilang juga. Cerpen yang menarik dimulai dari cepen keenam berjudul komedi kampus hingga cerpen terakhir.

"Perempuan kadang tak berterus terang tentang apa yang ada dalam hatinya"    (halaman 204)

Dari 14 cerpen tersebut, cerpen berjudul "Pertemuan" menjadi favorit saya. Cerpen itu bercerita tentang Cleo yang duduk bersebelahan di dalam bus dengan seorang pemuda. Ia dan pemuda tersebut kebetulan memiliki hobi yang sama yaitu membaca buku. Mereka pun menjadi sering mengobrol dan lama-kelamaan keduanya merasa dekat satu sama lain. Namun pemuda itu harus turun dari bis terlebih dahulu meninggalkan Cleo. Walau begitu, kebetulan masih belum berhenti menghampiri mereka.

Saya suka dengan cerita yang berlatar  situasi "kebetulan", karena saya suka menghayal peristiwa seru yang didasarkan pada situasi kebetulan hehehe....




Post a Comment