.quickedit { display:none; }

Resensi Buku Ranah 3 Warna

Judul: Ranah 3 Warna
Penulis: A. Fuadi
Penerbit:Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 477 halaman
Tahun Terbit: 2011

Ranah 3 Warna mungkin tidak seterkenal buku Negeri 5 Menara, buku pertama dari seri trilogi Negeri 5 Menara. Namun buku seri kedua ini jauh lebih menarik dari buku Negeri 5 Menara. Bahkan menurut saya yang paling menarik diantara semua buku trilogi Negeri 5 Menara. Mengapa saya katakan demikian ? Karena Ranah 3 Warna menyuguhkan fokus cerita dan setting latar yang lebih beragam. Tema utama buku ini adalah kisah Alif selama ia menjalani masa kuliah. Namun cerita yang disajikan tidak berfokus pada kegiatan perkuliahan Alif saja. Ada beragam kisah di luar kegiatan perkuliahan Alif yang menarik, inspiratif dan mengandung pesan moral.

Cerita dimulai dengan dilatari persaingan Alif dengan sahabatnya, Randai. Alif tidak mau kalah dengan Randai dan ingin membuktikan bahwa lulusan pesantren juga bisa kuliah di universitas negeri ternama. Akhirnya dengan berjuang keras belajar, Ia berhasil diterima di Unpad. Memang persaingan Alif dengan Randai terasa lebih kompetitif dibanding di buku sebelumnya, Negeri 5 Menara. Sejak masa sekolah mereka memang terang-terangan bersaing sehat dalam hal meraih prestasi.

Di awal masa kuliah Alif , pembaca disuguhkan kisah bagaimana perjuangan Alif menjalani hidup di Bandung. Tidak saja berkaitan dengan permasalahan biaya hidup yang pas-pasan, Ia harus menerima kenyataan bahwa Ayahnya meninggal. Ia sempat galau apakah lebih baik berhenti kuliah untuk fokus pada keluarganya di kampung ? Namun ibunya menguatkannya untuk tetap melanjutkan kuliah. Kondisi ini membuat ia bertekad agar tidak bergantung lagi pada kiriman uang dari ibunya dan justru dirinya yang ingin mengirim uang untuk keluarganya di kampung. Maka ia mulai bekerja tiga pekerjaan sekaligus sambil kuliah. Ia menjual barang katalog, mengajar les privat, dan menjual kain minang. Kemudian ia tinggalkan ketiga pekerjaan itu dan beralih sebagai penulis freelance yang memang menjadi passionnya. Beberapa tulisannya berhasil rutin masuk media cetak. Bahkan ia kemudian diminta sebagai penulis tetap untuk mengisi kolom suatu koran.

Untuk mencapainya tidak mudah. Ia mati-matian melewati proses keras berlatih menulis kepada seniornya di kampus, yaitu Togar. Berkali-kali ia harus memperbaiki tulisannya. Banyak mahasiswa yang menyerah belajar nulis karena fisik dan mentalnya nggak kuat meladeni gaya latihan menulisnya Togar, tapi Alif berhasil menjalaninya dan membuahkan hasil.

Tadi saya sebutkan latar ceritanya beragam Ya... karena tidak saja mengambil latar tempat Indonesia tapi juga Kanada !.  Alif mengikuti program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Ini untuk memenuhi keinginannya untuk bisa ke Amerika. Saya benar-benar larut pada cerita bagian ini. Disana Alif bekerja dan memperkenalkan tentang Indonesia. A.Fuadi berhasil mendeskripsikan suasana dan segala aktivitas Alif di Kanada dengan bahasa yang mudah dicerna sehingga saya pun seperti bisa juga merasakan suasana di Kanada. Beberapa peristiwa di Kanada mampu membuat saya merinding, terharu, dan membangkitkan nasionalisme.

Kisah Alif di buku ini tidak melulu soal perjuangan meraih kesuksesan tapi juga perjuangan meraih cinta. Lagi-lagi ia harus bersaing dengan Randai. Namun dalam hal asmara ini Alif dan Randai tidak terang-terangan satu sama lain. Adalah Raisa, mahasiswi yang membuat Randai dan Alif bersaing juga dalam hal cinta.  Perjuangan Alif dalam meraih cinta ini menambah keseruan membaca buku ini.




Post a Comment