.quickedit { display:none; }

Resensi Buku Tanpamu Kami Bukan Apa Apa

Realita Kehidupan Para Pendidik

Judul: Tanpamu Kami Bukan Apa-Apa
Penulis: Miyosi Ariefiansyah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal: 223 halaman
ISBN: 978-602-03-1348-1

Sinopsis:
Begitu banyak kisah sederhana namun mengandung nilai-nilai kehi dupan yang luar biasa yang berasal dari orang-orang di sekitar kita, salah sa tunya adalah guru: baik guru dalam bidang pendidikan dan pengajaran, maupun guru kehidupan.
Kita semua adalah guru, setidaknya untuk diri sendiri. Seperti yang tertulis dalam salah satu ayat kitab suci yang artinya kurang lebih, “Setiap manusia adalah pemimpin dan akan mempertanggungjawabkan apa yang dipimpinnya.” Membenahi diri sendiri, berkaca dari kejadian orang lain, serta belajar dan belajar, adalah beberapa dari kewajiban kita sebagai guru bagi diri sendiri.
Sebagai makhluk sosial, kita juga guru bagi yang lain: bagi anak, bagi suami, istri, saudara, teman-teman, dan orang-orang di sekitar kita. Sekecil apa pun perbuatan yang kita lakukan, semuanya akan berdampak pada orang lain. Sesuai dengan filosofi nya, guru: digugu dan ditiru, seperti itulah seharusnya kita bersikap dan bertindak. Apa yang kita lakukan, sedikit banyak pasti akan ditiru orang lain, setidaknya oleh lingkungan terdekat kita. Itu sebabnya, berusaha menjadi baik setiap hari itu wajib, bukan untuk dipuji, tapi untuk membantu kehidupan orang-orang lain di sekitar kita secara tidak langsung.

Review:
Jika melihat sosok guru yang mampu mengajar dengan baik, apa yang terlintas dibenak kita ? Mungkin kita akan berpikir bahwa guru adalah sosok yang sempurna. Ia mampu membagi ilmu dan memberi teladan yang baik. Tak jarang ada murid (terutama murid SD) lebih menurut dengan gurunya dibanding dengan orang tuanya sendiri. Namun dibalik kesempurnaan seorang guru, terdapat berbagai problema dan pengorbanan yang dialami guru.

Buku ini menyajikan 23 kisah nyata tentang guru yang dibagi ke dalam lima bab. Kisah-kisah tersebut ditulis berdasarkan certia yang disampaikan oleh berbagai guru di tanah air kepada sang penulis buku. Daya tarik dari buku ini adalah kisah yang diangkat bukan hanya tentang perjuangan dan pengorbanan guru seperti yang sudah sering dikisahkan di buku lain atau di acara televisi.

Beberapa kisah disajikan berdasarkan suara hati sang pendidik yang merasakan berbagai problema, keresahan, dan konflik batin dalam dirinya saat memutuskan menjadi guru dan saat menjalaninya. Maka, jika dilihat dari sisi seorang murid, tentu saja tidak disangka bahwa hal-hal tersebut dirasakan oleh guru.
Seperti kisah diceritakan salah seorang guru kepada sang penulis buku berikut ini. Tentu tidak disangka dibalik kebaikannya dihadapan murid, ternyata ia awalnya terpaksa menjadi guru.. Ia harus mengubur cita-citanya untuk menjadi akuntan dan terpaksa menjalani kuliah keguruan karena hanya ingin patuh terhadap orang tua yang menginginkannya menjadi guru.

Ada juga kisah guru yang merasa tidak nyaman dengan profesi mulia tersebut karena orang lain dan dirinya sendiri menganggap profesi guru kurang menjanjikan, baik dari segi penghasilan maupun segi status sosial. Justru sebaliknya, ada guru yang memang cinta pada profesinya namun tidak disetujui oleh kerabat atau keluaraganya. Selain itu, ada kisah tentang para guru yang memiliki keterbatasan, seperti keterbatasan fisik serta keterbatasan latar belakang pendidikan. Kerap keterbatasan tersebut dipandang sebelah mata oleh orang lain. Namun para guru tersebut tetap pantang menyerah

Pada bab terakhir dikisahkan orang-orang yang bukan berprofesi guru tapi memiliki peranan yang menuntun ke jalan yang benar layaknya seperti seorang guru. Seperti kisah seoarang ibu lulusan SD yang mampu mengasuh anaknya hingga lulus S1.

Dari berbagai kisah tersebut, pada akhirnya terdapat hikmah yang dapat dipetik. Seperti salah seorang guru yang terpaksa mengajar karena ingin terhindar dari cap pengangguran, akhirnya ia menyadari bahwa mengajar dapat juga untuk berlatih dan mengasah kemampuan berkomunikasi. Terdapat hal menarik yang disadari oleh salah seorang guru lainnya yaitu ternyata murid SD justru lebih dewasa dari pada orang dewasa sendiri.

Pembaca juga pada akhirnya diajak untuk menyadari bahwa profesi guru tidak layak dianggap remeh dan dipandang sebelah mata.

1 komentar:

Post a Comment