.quickedit { display:none; }

Resensi Buku Pak Guru


Judul: Pak Guru
Penulis: Awang Surya
Penerbit: Ersa
Tahun: 2014
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-602-1538-01-2

Setiap permasalahan dan cobaan yang datang, pasti Tuhan akan memberikan jalan penyelesaiannya. Hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca novel ini, lewat kisah kehidupan Musa sebagai kepala sekolah SD di daerah Lamongan pada tahun 1970-an. Kesulitan hidup yang dialami Musa bukan pada permasalahan ekonomi melainkan lebih kepada permasalahan hubungan sosial dengan orang-orang disekitarnya.

Pada awalnya Musa hanyalah guru biasa di SD negeri desa deket. Namun kehidupannya berubah setelah Kepala Sekolah SD saat itu, Pak Darmanto, memberikan tugas kepadanya untuk meneruskan jabatan kepala sekolah. Tentu Musa tidak menyangka, karena menurutnya masih ada Pak Sarkowi yang lebih senior darinya. Namun Pak Darmanto memiliki pemikiran lain. Menurutnya Musa lebih baik dibanding Pak Sarkowi.

Akhirnya Musa menerima jabatan tersebut dan itu membuat Pak Sarkowi sakit hati. Ia merasa lebih pantas menjadi kepala sekolah karena sudah lebih lama mengajar dibanding Musa. Maka Musa pun mengadapi cobaan pertamanya sebagai kepala sekolah. Pak Sarkowi mulai bersikap seenaknya dan tidak mempedulikan Musa..............




Tidak sampai disitu, Musa mulai menerima terror seperti ban sepedanya yang dikempesi. Kemudian lebih parah lagi, sepeda Musa dipreteli sehingga tidak bisa dipakai lagi. Musa pun tidak tahu siapa yang melakukan. Ia hanya bisa sabar dan tidak mau asal menuduh. Namun Tuhan memberi jalan keluar. Teman Musa yang bekerja dikepolisian datang bersilahturami ke sekolah Musa. Warga sekitar mengira Musa melaporkan aksi terror yang menimpanya ke polisi. Hal itu terdengar sampai ke telinga Pak Sarkowi. Pak Sarkowi pun pergi entah kemana. Sebagai pengganti Pak Sarkowi, hadirlah Bu Eni.

Menghilangnya Pak Sarkowi tidak berarti permasalahan Musa lenyap begitu saja. Kehadiran Bu Eni justru menjadi “musuh” baru bagi Musa. Bu Eni menularkan gaya hidup mewah dan modern ke para guru. Ia memamerkan motor barunya dan menawarkan barang-barang fashion jualannya kepada guru-guru. Melihat itu Musa menjadi pusing karena banyak guru-guru mengajukan pinjaman koperasi untuk membeli aneka barang mewah tersebut. Padahal Musa menginginkan para guru hidup sederhana supaya tidak meminjam uang koperasi sehingga fokus mengajarnya tidak terbelah dengan pekerjaan lain yang memberi penghasilan tambahan untuk membayar utang koperasi.

Tidak hanya pada para guru, Bu Eni juga menghasut para istri guru untuk membeli barang-barang fashionnya. Hingga akhirnya istri Musa juga ikut membeli tas dengan harga cukup mahal. Hal itu membuat kemarahan Musa memuncak, ia marah besar kepada istrinya. Ia tidak habis pikir bahwa pengaruh Bu Eni bisa sampai pada istrinya. Karena tidak kuat menerima kemarahan Musa, Istri Musa pun pergi dari rumah dan tinggal bersama orang tuanya.

Ditinggal istri membuat kehidupan Musa bersama anaknya Alfan kacau balau. Beberapa hari kemudian ia memutuskan untuk pindah rumah. Namun saat mengemas barang, Musa menemukan foto kakaknya. Ia menjadi teringat perkataan kakaknya bahwa jika setan menghalangi , itulah tanda perbuatan kita benar. Kalau kamu mengajak anak buahmu hidup yang benar, tapi mereka menolak, itu tanda perbuatan kamu benar. Jangan ragu… hadapi. Insya Allah, pertolongan Allah akan datang tepat pada waktunya. Dan benar, istri Musa kembali tepat pada saat Musa bingung memilih untuk pindah rumah atau tetap tinggal disitu.

Resensi ini juga dimuat di http://indoleader.com/index.php/resensi/3860-berjuang-menjalani-hidup-di-jalur-yang-benar

Post a Comment